March 1st, 2010
Arianto B Santos
KOMPAS.com - Perubahan iklim merupakan situasi yang saat ini kita hadapi dan tidak dapat ditawar lagi kecuali dengan meredam lajunya. Adalah dengan memahami proses- proses yang terjadi di alam, wawasan kita dapat dibuka tentang bagaimana dan mengapa iklim itu berubah.
Dari situ kita akan sadar bahwa secara alamiah iklim itu memang akan berubah walau tanpa campur tangan manusia. Dan, dengan adanya aktivitas manusia, berawal dari revolusi industri hingga kini, iklim berubah dengan drastis.
Mungkin semua orang tahu bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di udara yang menyebabkan temperatur di permukaan bumi meningkat.
Hampir semua negara di dunia berusaha untuk menurunkan emisi GRK-nya masing-masing walau dengan perdebatan yang cukup alot mengenai besaran yang harus diturunkan. Dan, menurut hemat saya, hal tersebut cukup sulit karena banyak faktor yang harus dipantau dan dievaluasi, serta yang jelas harus ilmiah.
Kita mungkin paham bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO) sehingga kita berusaha untuk menjaga hutan agar tetap hijau dan menghijaukan area terbuka.
(more…)
Posted in Blogs | No Comments »
February 26th, 2010
Jakarta (ANTARA News) - Konferensi luar biasa tingkat dunia negara pihak Konvensi Basel, Rotterdam, dan Stockholm (ExCOp) di Nusa Dua Bali menyetujui enam butir kesepakatan untuk efisiensi dan efektifitas pelaksanaan tiga konvensi itu, demikian Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta yang juga sebagai Presiden COP Konvensi Basel dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis.
Keenam butir kesepakatan itu adalah aktivitas kerjasama, fungsi kerjasama manajerial, layanan bersama, sinkronikasi dana, audit bersama, dan tinjauan bersama.
“Keenam hal ini akan menjadi acuan dalam pengelolaan konvensi kimia dan limbah ke depan,” kata Gusti Muhammad Hatta.
Dia mengatakan, tatanan baru dalam sinergi konvensi di bidang kimia dan limbah ini akan mendorong peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan bahan kimia dan limbah.
Hal itu nantinya mempengaruhi pula pengelolaan lingkungan Indonesia demi terlindunginya kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup akibat dampak bahan kimia dan limbah berbahaya.
(more…)
Posted in News | No Comments »
February 25th, 2010

Jakarta (ANTARA News) - Kongres rumput laut sedunia ke-20 di Mexiko menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan kongres yang ke-21 atau The XXI ISS (International Seaweed Symposium) yang akan digelar di Bali pada 2013.
“Salah satu keputusan penting adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah pelaksanaan International Seaweed Symposium (ISS) XXI yang akan dilaksanakan di Bali 2013,” kata ketua Umum asosiasi Rumput Laut Indonesia (ALRI), H. Safari Azis Husain saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Safari Azis sedang berada di Meksiko untuk menghadiri ISS XX yang berlangsung sejak 22 s/d 26 Februari 2010. Dalam acara ini delegasi Indonesia diwakili oleh 5 orang yang mewakili komunitas rumput lndonesia yakni: H. Safari Azis Husain (Ketua Umum ARLI), Dr. Ian Niesh (Jasuda Net - perwakilan LSM), Soerianto Kusnowirjono (PT. Agarindo Bogatama - Industri Agar), Dr. Grevo Gerung (Universitas Sam Ratulangi-perwakilan scientist), H. Djusdil Akrim (PT. Bantimurung Indah - Industri Karaginan).
Lebih lanjut Azis mengatakan, dengan ditetapkannya Indonesia sebagai tuan rumah pelaksanaan ISS XXI menunjukkan Indonesia dinilai memiliki potensi yang besar dalam pengembangan budidaya rumput laut.
(more…)
Posted in News | No Comments »
February 24th, 2010
Denpasar (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendesak semua pihak untuk segera menyepakati aturan dan komitmen terkait perubahan iklim karena waktu yang tersedia untuk instrumen pengganti protokol Kyoto semakin tipis.
“Saya mendengar adanya rencana pertemuan informal tingkat menteri mengenai perubahan iklim, di Bali. Saya mendorong untuk memanfaatkan forum ini guna mencari solusi terbaik. Kita ingin menghasilkan konsensus yang lebih mengikat. Kita ingin mewujudkannya pada Konferensi perubahan Iklim di Meksiko mendatang, satu hasil yang nyata,” kata Presiden saat membuka pertemuan ke-11 Special Session of The UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Rabu siang.
Presiden menambahkan dalam 12 tahun terakhir, dunia mengalami kenaikan suhu tertinggi sejak tahun 1850. Kenaikan suhu sebesar itu akan mengakibatkan peningkatan permukaan air laut.
“Kita tidak dapat mengabaikan fakta ini. Kenaikan satu meter permukaan air laut, berdampak negatif terhadap jutaan orang yang hidup di bumi kita,” katanya.
Kepala Negara menyatakan keanekaragaman hayati yang dimiliki, juga menghadapi ancaman yang sangat mencemaskan. Lebih dari 50.000 jenis tumbuhan mengalami kepunahan. Hampir 4.000 spesies vertebrata endemik, berpotensi hilang tak berbekas pada akhir abad ini.
“Sekitar 60 persen ekosistem dunia dari hutan dan lahan sampai karang laut dan sabana akan mengalami kerusakan serius,” tegasnya.
Presiden juga menyampaikan rasa prihatin pada tata kelola lingkungan global.
“Saya secara pribadi sangat prihatin terhadap proliferasi dan fragmentasi kesepakatan lingkungan multilateral. Hal ini menyebabkan fungsi dari masing-masing kesepakatan itu tidak dapat berjalan optimal. Karena itulah, kita harus menguatkan koordinasi, koherensi, dan efektivitas tata-kelola lingkungan global dalam sistem PBB. Kita juga harus memastikan efektivitas dan koherensi aksi global dalam mengatasi permasalahan lingkungan,” paparnya.
Presiden Yudhoyono mengatakan tidak ada pilihan lain, kecuali meningkatkan kapasitas UNEP sebagai badan PBB yang bertanggung jawab langsung terhadap permasalahan lingkungan.Berikan mandat yang kuat terhadap UNEP.
“Berikan pula kewenangan dan tanggung jawab yang besar. Dan, berikan pula pendanaan yang cukup untuk menjalankan mandat dan tanggung jawabnya,” katanya.
(P008/B010)
Sumber: Antara
Foto: Antara
Posted in News | No Comments »
|
Latest Data Entry
Schuttenberg, H.Z. (ed)., (2000), Coral Bleaching: Causes, Consequences and Response, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI, USA, 102 pp. (924 kb).
January 9th, 2010
Patlis, J., N.A. Tangkilisan, D. Karwur, M.E. Ering, J. Tulungen, R. Titahelu, M. Knight, (2003), Study Case Developing a District Law, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 86 pp. (2571 kb).
September 6th, 2009
Coastal Resources Center, (2001), Coral Reef Field Perspectives: Crown-of-Thorns Clean-Up Fact Sheet, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 1 pp. (196 kb).
August 12th, 2009
Pollnac, R.B., (2000), Assessing Behavioral Aspects of Coastal Resource Use, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 149 pp. (946 kb).
July 17th, 2009
Knight, M., (2001), Desentralisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir di Amerika Serikat: Contoh bagi Indonesia, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 106 pp. (4167 kb).
May 5th, 2009
Latest Data Entry


|