Dashboard | About Us | Contact Us  
 
Newsflash

Jaringan MaskerBiru

October 19th, 2008

MaskerBiru.net didasari atas semangat berbagi dan kebersamaan. Berangkat dari sebuah keinginan untuk menyediakan wadah bagi semua orang untuk berbagi, bertukar informasi, bertukar pendapat, menyampaikan ide, maka terbentuklah MaskerBiru.net. Bergabunglah menjadi salah satu dari sekian banyak anak negeri yang peduli dengan terumbu karang Indonesia. Untuk melihat informasi mengenai kondisi terumbu karang Indonesia yang disumbangkan secara partisipatif dan sukarela, anda dapat melihatnya pada menu “Coral Reef Map”

  • Loading...


    Loading...

    User Login




    Remember me
    Register
    Lost password?

    Register





    A password will be mailed to you.
    Log in | Lost password?

    Retrieve password





    A confirmation mail will be sent to your e-mail address.
    Log in | Register
    • Translate to:

    Jejak Perubahan Iklim di Terumbu Karang

    Thursday, August 6th, 2009

    siberut

    Liputan6.com, Siberut: Jika Anda merasakan udara belakangan ini semakin panas, itu tak lain karena bumi yang makin tua tengah dihadapkan pada perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim tersebut antara lain bisa dilihat dari jejak yang tertinggal di bawah laut. Untuk itu, SCTV bersama sejumlah ilmuwan, belum lama ini, berusaha mencari bukti tersebut di bawah kedalaman laut Kepulauan Menwatai, Sumatra Barat.

    Tak hanya alam yang cantik, Kepulauan Mentawai juga menarik bagi ahli geologi yang ingin mencari rekam jejak gempa dan tsunami yang terdapat di bawah permukaan lautnya. Seperti pertengahan Juli silam, tim ilmuwan iklim purba dari Ilmu Kebumian Universitas Hokaido Jepang dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menelusuri perairan di Mentawai.

    Menurut para ilmuwan, sejarah terjadinya gempa dan tsunami itu tercatat pada terumbu karang yang banyak terdapat di kedalaman laut Mentawai. Tidak sembarang terumbu karang, hanya yang sudah berumur ratusan tahun yang dicari untuk mengungkap rahasia tersebut. Tak hanya itu, para peneliti yang ikut dalam misi ini paling tidak harus bisa menyelam.

    Akhirnya tim menemukan sebuah terumbu karang setinggi dua meter. Paling tidak terumbu ini menyimpan catatan sejarah 200 tahun lampau. Sebab, ketinggian terumbu karang bertambah satu sentimeter setiap tahun yang dipengaruhi lingkungan di sekitarnya. Semua sampel yang didapat akan dibawa ke laboratorium untuk mencari tahu perubahan iklim yang telah terjadi dalam kurun waktu tertentu.(ADO)

    Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/200908/239475/Jejak.Perubahan.Iklim.di.Terumbu.Karang

    Berkenalan dengan Terumbu Karang Indonesia

    Tuesday, July 21st, 2009

    Sumber: http://alamendah.wordpress.com/2009/07/21/berkenalan-dengan-terumbu-karang-indonesia/

    alamendah

    Terumbu karang (coral reef) di Indonesia merupakan yang terkaya di dunia. Diperkirakan dari total luas terumbu karang di dunia yang mencapai 284.300 km2, 18 % (85.200 km2) diantaranya berada di wilayah Indonesia. Hal ini juga berkaitan dengan Indonesia yang sebagai negara maritim terbesar di dunia yang memiliki perairan seluas 93 ribu km2. Terumbu karang Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2.500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Sejauh ini telah tercatat lebih dari 750 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga terdapat di Indonesia.

    Terumbu karang Indonesia juga termasuk dalam wilayah segitiga karang dunia (coral triangel) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Segitiga karang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2.

    (more…)

    Indonesia Pusat Terumbu Karang Dunia

    Friday, June 19th, 2009

    oleh: Marthen Welly
    Sumber: http://netsains.com/2008/10/indonesia-pusat-terumbu-karang-dunia/

    Karang

    Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2.

    Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 Km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle. Saat ini, kepulauan Raja Ampat di Papua Barat merupakan kepulauan dengan jumlah jenis terumbu karang tertinggi di dunia. Berdasarkan sebuah kajian ekologi yang dipimpin oleh The Nature Conservancy (TNC) dengan melibatkan para ahli terumbu karang dan ikan dunia pada tahun 2002, ditemukan sekitar 537 jenis karang dan 1074 jenis ikan di kepulauan Raja Ampat.

    Manfaat

    Jumlah jenis terumbu karang di Raja Ampat tersebut merupakan 75% dari seluruh jenis terumbu karang dunia yang pernah ditemukan. Walaupun kepulauan Carribean di Amerika tengah dan Great Barrier Reef Marine Park di Australia sangat terkenal, kedua kawasan tersebut hanya memiliki sekitar 400 jenis karang.

    (more…)

    Sepertiga Jenis Karang Mengalami Resiko Kepunahan Akibat Perubahan Iklim dan Masalah Lokal

    Thursday, June 11th, 2009

    Sumber: www.terangi.or.id

    chengpow.wordpress.com

    Sepertiga jenis karang terancam punah disebabkan oleh perubahan iklim dan masalah lokal. Hal tersebut dapat dilihat dari masuknya 845 karang yang berasosiasi dengan zooxanthella kedalam IUCN red list. Menurunnya populasi karang diduga disebabkan oleh pemutihan karang dan kenaikan suhu permukaan laut.

    Terumbu karang memiliki peranan penting bagi keanekaragaman organisme laut. Ekosistem terumbu karang memiliki nilai estetika, rekreasi, dan sumber daya. Tetapi, pemantauan jangka panjang terhadap lingkungan tersebut masih kurang sehingga peningkatan ancaman terjadi pada skala lokal dan global. Masalah secara global terjadi akibat semakin meningkatnya kandungan karbon dioksida dan efek rumah kaca pada atmosfer dan mendorong naiknya suhu permukaan laut (yang diduga juga menyebabkan pemutihan dan kematian karang) serta meningkatkan derajat keasaman air laut. Air laut yang semakin asam akan membuat ion karbonat berkurang sehingga menurunkan kemampuan karang untuk membangun kerangka.

    Masalah lokal dapat disebabkan oleh ulah manusia seperti pengembangan pesisir pantai, sedimentasi dan limbah dari daratan berupa nutrien serta eutrofikasi bahan kimia dari hasil pertanian, penambangan karang dan penangkapan ikan yang (more…)

    Latest Data Entry

    Schuttenberg, H.Z. (ed)., (2000), Coral Bleaching: Causes, Consequences and Response, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI, USA, 102 pp. (924 kb).

    January 9th, 2010

    Patlis, J., N.A. Tangkilisan, D. Karwur, M.E. Ering, J. Tulungen, R. Titahelu, M. Knight, (2003), Study Case Developing a District Law, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 86 pp. (2571 kb).

    September 6th, 2009

    Coastal Resources Center, (2001), Coral Reef Field Perspectives: Crown-of-Thorns Clean-Up Fact Sheet, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 1 pp. (196 kb).

    August 12th, 2009

    Pollnac, R.B., (2000), Assessing Behavioral Aspects of Coastal Resource Use, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 149 pp. (946 kb).

    July 17th, 2009

    Knight, M., (2001), Desentralisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir di Amerika Serikat: Contoh bagi Indonesia, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 106 pp. (4167 kb).

    May 5th, 2009