Tuesday, November 24th, 2009
Sumber: http://netsains.com/2008/11/karangku-sayang-karangku-malang/

Dentuman bom ikan setidaknya lima kali mendebarkan jantung saya selama penyelaman pertama di Kepulauan Spermonde, Sulawesi. Dan ini berulang setiap kali menyelam, selalu saja ada terdengar dentuman bom. Ternyata praktek illegal fishing dan destructive fishing di kawasan ini masih saja terjadi.
Apa boleh dikata, karena memang sistem pengawasan di daerah ini masih sangat minim. Bahkan bisa dikatakan tidak ada. Terdapat lebih dari 150 buah pulau tersebar di daerah ini, yang tentunya juga memang akan memakan biaya yang sangat besar untuk patroli dan keamanan. Ironis memang sebagai negara bahari. Jejak bom memang masih sangat kental disini, terlihat dari puing-puing terumbu berserakan di dasar lautan.
Pun terumbu karang Indonesia dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia tertinggi di dunia. Namun juga ironisnya, Indonesia juga termasuk daerah yang terumbu karangnya yang paling terancam di dunia. Dari hasil pemantauan LIPI pada tahun 1999, terdata hanya sekitar 6 persen terumbu karang yang masih dalam kondisi yang baik.
Ancaman dan Kerusakan
Sebenarnya ekosistem terumbu karang mempunyai sifat kelenturan dan ketahanan yang tinggi, terlihat dari kemampuannya bertahan di muka bumi ini selama lebih dari ratusan juta tahun. Namun, apabila tekanan yang terjadi sekarang ini dapat menimbulkan kematian dan kepunahan. Dikategorikan dua jenis ancaman terhadap terumbu karang, yakni ancaman manusia (anthropogenik) dan ancaman alam. Tapi sepertinya ancaman manusia lebih berbahaya dibandingkan dengan alam. Perkembangan yang sangat pesat di daerah pesisir sangat mengancam kondisi terumbu karang. Terlebih lagi belum adanya sistem pengelolaan secara menyeluruh di daerah pesisir.
(more…)
Posted in Blogs | No Comments »
Tuesday, November 24th, 2009
Sumber: http://balikamilagi.wordpress.com/2009/11/24/konservasi-terumbu-karang-berbasis-masyarakat-untuk-keberlanjutan-wisata-bahari-pengalaman-desa-pemuteran-bali/

Era tahun 1990 desa Pemuteran, yang terletak 115 kilo meter dari pusat Kota Denpasar, diujung barat pulau Bali ini masuk pada posisi daerah kritis, kering, minim curah hujan. Daerah dengan keterbatasan sumber air bersih akibat ketidak pahaman memelihara lingkungan – penangkap air hujan —. Berpenduduk kurang lebih 7.650 jiwa (1.700 KK), 80 persen sebagai nelayan, lainnya sebagai buruh bangunan, sopir angkutan. Lahan daratan hanya berproduksi setahun sekali berupa palawija. Hal wajar jika kemudian masyarakat mengantungkan kehidupannya ke wilayah pesisir sebagai nelayan.
Jika di darat kurang produktif, lainnya halnya dengan potensi laut Desa Pemuteran. Pesisir teluk Pemuteran sepanjang kurang lebih 7 kilometer dengn tiga teluknya memiliki keindahan tersendiri. Pantainya landai, arus lautnya tidak terlalu keras dan hampir sepanjang tahun bermandi matahari. Teluk ini dikenal sebagai daerah tangkapan ikan hias. Bagi masyarakat Pemuteran – begitu juga masyarakat Bali – yang Hindu, laut adalah sumber kehidupan abadi, tak akan pernah habis- habisnya. Sepanjang masyarakat juga melakukan pemeliharaan dengan baik dan benar.
(more…)
Posted in Blogs | 2 Comments »
Monday, November 9th, 2009
Sumber: http://www.reefcheck.or.id/?p=1019
Senin, Nopember 9th, 2009

Berawal dari kegiatan survey kejadian pemutihan karang pada bulan Juni dan Juli 2009, Reef Check Indonesia diundang oleh beberapa komponen masyarakat di Amed, khususnya pelaku industry wisata. Kehadiran Reef Check dalam rangka memfasilitasi usaha pengelolaan yang berkelanjutan bagi terumbu di Amed.
Beberapa pelaku wisata yang tergabung dalam kelompok Amed Sadar Lingkungan, serta kelompok nelayan, menyatakan bahwa perlu peningkatan koordinasi dan kerjasama antara seluruh komponen untuk menjamin Amed tetap menarik untuk hari esok.
Dalam workshop sederhana yang diadakan pada 28-28 Oktober 2009, berhasil diidentifikasi ancaman yang ada serta kekuatan dan peluang yang bisa diambil sebagai jalan keluar. Disepakati juga beberapa rencana aksi yang akan segera diambil yaitu penambahan mooring buoy, kegiatan coastal cleanup bersama dan reboisasi untuk menekan sedimentasi dan run off.
Posted in Blogs | 1 Comment »
Tuesday, July 21st, 2009
Sumber: http://alamendah.wordpress.com/2009/07/21/berkenalan-dengan-terumbu-karang-indonesia/

Terumbu karang (coral reef) di Indonesia merupakan yang terkaya di dunia. Diperkirakan dari total luas terumbu karang di dunia yang mencapai 284.300 km2, 18 % (85.200 km2) diantaranya berada di wilayah Indonesia. Hal ini juga berkaitan dengan Indonesia yang sebagai negara maritim terbesar di dunia yang memiliki perairan seluas 93 ribu km2. Terumbu karang Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2.500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Sejauh ini telah tercatat lebih dari 750 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga terdapat di Indonesia.
Terumbu karang Indonesia juga termasuk dalam wilayah segitiga karang dunia (coral triangel) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Segitiga karang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2.
(more…)
Posted in Reef of Indonesia, Blogs | No Comments »
|
Latest Data Entry

Green, Alison L. ; Bellwood, David R.
IUCN, Global Marine Programme
Series: IUCN Resilience Science Group Working Paper Series ; 7
Gland : IUCN, 2009. v, 70 p. : ill.
ISBN 978-2-8317-1169-0
Download
February 18th, 2010
Schuttenberg, H.Z. (ed)., (2000), Coral Bleaching: Causes, Consequences and Response, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI, USA, 102 pp. (924 kb).
January 9th, 2010
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia - Permen No. PER.02/MEN/2009, tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan.
December 15th, 2009
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil - Nomor PER.17/MEN/2008
November 6th, 2009
C HITIPEUW - 2003
Download
October 4th, 2009
|