Berbicara masalah Perubahan Iklim merupakan masalah yang lumayan rumit, akhir-akhir ini banyak wacana yang terus membahas mengenai perubahan iklim (Climate Change). Perubahan iklim merupakan siklus gejala alam yang biasa terjadi perlahan-lahan sekitar 50-100 tahun , namun seiring dengan perkembangan industri, serta konsumsi bahan bakar yang mengalami peningakatan setiap tahun, dan pengeluaran gas emisi karbon di atmosfer, perubahan iklim kini dirasakan dampaknya lebih awal. Akibat dari perubahan iklim, dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan mengalami krisis air, kemarau panjang, bencana banjir, kekurangan pangan, tenggelamnya banyak pulau serta meningkatnya penyakit malaria dan demam berdarah yang terjadi di seluruh Indonesia.
Perubahan iklim pun mulai dirasakan pada sektor ekonomi, sektor pangan, sektor pariwisata,bahkan ekosistem laut pun mulai merasakan dari dampak perubahan iklim, salah satunya ekosistem terumbu karang.
Ekosistem terumbu karang (Coral reef) merupakan ekosistem laut yang berperan dalam penyerapan karbon pun mulai merasakan dari dampak perubahan iklim. Terumbu karang di Indonesia terdapat 250-450 jenis (ekosistem terbesar di dunia)dan memiliki Luas Tutupan : 85.700 Km2 yang terbagi dalam 6,5 % dalam ‘kondisi baik’serta 93,5 % ‘keadaan RUSAK’.Terumbu karang di dunia terancam habis karena emisi karbondioksida. Jika dibiarkan 20 tahun mendatang akan hilang.
Beberapa manfaat dari terumbu karang itu sendiri:
* merupakan tempat mencari makanan dan daerah asuhan bagi ikan
* sebagai hasil tangkapan nelayan, beberapa ikan komersial yaitu ikan kerapu dan ikan baronang
* sebagai pelindung pantai dari ombak dan gelombang laut
* sebagai wisata bahari
Perubahan iklim menyebabkan suhu menjadi lebih hangat serta menyebabkan es di kutub utara mencair dan meningkatkan kenaikan muka air laut dimana zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang tidak cukup mendapatkan paparan sinar matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis yang dimana hasilnya dimanfaatkan bagi karang untuk mendapatkan nutrien. Meningkatnya CO2 ( karbon dioksida ) di atmofser yang hampir lebih 50% diserap lautan dapat menurunkan pH air laut.
Perubahan iklim juga menyebabkan perubahan kimiawi laut, dimana pH permukaan laut telah menurun sekitar 0.1 unit dan saat ini (prediksi saat ini sekitar 0.25-0.33 pH per unit bahkan mendekati 0.4) (Key et al 2004, Orr et al 2005, Harley et al 2006, Solomon et al 2007). meningkatnya kandungan CO2 pada laut juga menyebabkan mengurangnya ion carbonate. Menurunya pH dan kandungan ion carbonate ini bersama – sama menyebabkan terhambatnya pertumbuhan karang dalam membentuk kerangka yang menjadi keras pada Hard Coral, pertumbuhan ini menjadi struktur karang menjadi tipis dan rapuh.
Menurut Sumich (1992) menjelaskan bahwa adanya proses fotosintesa oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut: Ca (HCO3) <-> CaCO3 + H2CO3<-> H2O + CO2
Fotosintesa oleh algae yang bersimbiose membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposist cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae.peran simbiosis ini saling menguntungkan antara karang dengan zooxanthallae tersebut, dimana zooxanthallae mendapatkan zat anorganik yang terdapat di karang untuk melakukan fotosintesis.
Kondisi terumbu karang di dunia termasuk Indonesia terus mengalami kondisi yang memburuk karena temperatur/suhu di laut yang makin menghangat, pH yang tidak stabil dan perubahan pola angin. Kondisi tersebut mendorong terjadinya pemutihan karang (bleaching coral) massal, terjadinya bleaching coral adalah dimana zooxanthallae yang besimbiosis dengan karang lepas. Zooxanthallae ini juga yang menyebabkan bewarna-warninya pada terumbu karang menjadi lebih indah ,jika lepas meyebabkan karang menjadi putih. dan pengasaman air laut(acidification sea water) di masa yang akan datang sehingga akan mengancam pemulihan dan pertumbuhan terumbu karang ke depan.
Naiknya suhu permukaan laut yang diakibatkan oleh perubahan iklim diperkirakan akan berdampak jauh berbeda dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam 400.000 tahun terakhir. Para ahli iklim di dunia meramalkan akan naiknya suhu permukaan laut secara global antara 1,4-5,8ºC di akhir tahun 2100, mengakibatkan pemutihan karang yang sedianya sudah dapat terjadi ketika suhu musim panas lebih tinggi 1- 2ºC dari biasanya terjadi dalam skala besar-besaran dan dengan interval yang lebih sering. Dalam 30 tahun mendatang mereka juga meramalkan pemutihan terumbu karang dapat terulang tiap tahunnya di sebagian besar wilayah laut tropis dunia.
Menurut laporan greenpeace di Bali,”Pada akhirnya, keberlangsungan hidup terumbu karang di Bali dan wilayah tropis lainnya tergantung pada dapat dihindarinya bencana-bencana yang diakibatkan oleh fenomena perubahan iklim. Satu-satunya jalan untuk mencapai hal itu adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan aktivitas-aktivitas manusia, khususnya dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi penyebab sebagian besar emisi itu,” ungkap Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Se-Asia Tenggara.
Dampak perubahan iklim terhadap terumbu karang pun mengancam keberlanjutan ketersediaan pangan dan akan memaksa masyarakat di daerah pesisir berpindah karena kehilangan sumber makanan dan sumber pendapatan.
Studi yang dilakukan World Wildlife Fund (WWF) Internasional juga menyebutkan bahwa jika dunia tidak mengambil tindakan efektif untuk menekan dampak perubahan iklim maka kawasan terumbu karang di Segitiga Karang (Coral Triangle) akan hilang pada akhir abad ini. Hal itu membuat kemampuan daerah pesisir untuk menghidupi populasi di daerah sekitarnya akan berkurang 80 persen.
Menurut Direktur Jenderal WWF Internasional James Leape di sela Konferensi Kelautan Dunia (WOC) mengatakan,”Hal itu bisa terjadi karena keberadaan terumbu karang sangat memengaruhi kelangsungan ekosistem laut, termasuk kehidupan sumber daya hayati di dalamnya”. Segitiga Karang yang meliputi kawasan Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste mencakup 30 persen dari terumbu karang di dunia dan 76 persen dari spesies karang yang membentuknya merupakan tempat bertelur jenis ikan strategis, seperti ikan tuna.
“Jika terumbu karang, mangrove dan rumput laut dibiarkan rusak dan tidak diperhatikan, sumber daya hayati laut yang tersisa untuk dinikmati akan tinggal 10 persen dari yang ada sekarang,” kata Prof Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queesnsland di Manado, di sela Konferensi Kelautan Dunia (WOC).
Pemerintah dan para instasi yang terkait harus serius menangani dampak perubahan iklim terhadap terumbu karang. Melalui upaya-upaya pengenalan pengetahuan dari dampak perubahan iklim kepada masyarakat, dimulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa mampu mengetahui dan memahami serta menyadari dari dampak perubahan iklim. Jika tidak anak cucu kita yang merasakan dari dampak perubahan iklim yang berkepanjangan ini…
Dwijayanti Arum Sari
Sumber:http://djeecintalaut.wordpress.com/2009/12/23/perubahan-iklim-mempengaruhi-terumbu-karang/
This entry was posted
on Thursday, December 24th, 2009 at 9:35 pm and is filed under Blogs.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
July 12th, 2010 at 2:26 pm
I’ve bookmarked this because I found it interesting. I would be very interested to hear more news on this. Thanks!