Sumber: http://balikamilagi.wordpress.com/2009/11/24/konservasi-terumbu-karang-berbasis-masyarakat-untuk-keberlanjutan-wisata-bahari-pengalaman-desa-pemuteran-bali/

Era tahun 1990 desa Pemuteran, yang terletak 115 kilo meter dari pusat Kota Denpasar, diujung barat pulau Bali ini masuk pada posisi daerah kritis, kering, minim curah hujan. Daerah dengan keterbatasan sumber air bersih akibat ketidak pahaman memelihara lingkungan – penangkap air hujan —. Berpenduduk kurang lebih 7.650 jiwa (1.700 KK), 80 persen sebagai nelayan, lainnya sebagai buruh bangunan, sopir angkutan. Lahan daratan hanya berproduksi setahun sekali berupa palawija. Hal wajar jika kemudian masyarakat mengantungkan kehidupannya ke wilayah pesisir sebagai nelayan.
Jika di darat kurang produktif, lainnya halnya dengan potensi laut Desa Pemuteran. Pesisir teluk Pemuteran sepanjang kurang lebih 7 kilometer dengn tiga teluknya memiliki keindahan tersendiri. Pantainya landai, arus lautnya tidak terlalu keras dan hampir sepanjang tahun bermandi matahari. Teluk ini dikenal sebagai daerah tangkapan ikan hias. Bagi masyarakat Pemuteran – begitu juga masyarakat Bali – yang Hindu, laut adalah sumber kehidupan abadi, tak akan pernah habis- habisnya. Sepanjang masyarakat juga melakukan pemeliharaan dengan baik dan benar.
Kondisi daratan yang kurang menguntungkan, mendorong masyarakat Pemuteran memberdayakan potensi lautnya secara maksimal. Bahkan dengan tindakan yang kurang bersahabat, seperti penggunaan potasium untuk mendapatkan ikan hias atau pun ikan konsumsi., akibatnya terumbu karang sebagai tempat hidup dan berkembang biaknya keragaman hayati laut menjadi hancur. Kehancuran potensi bawah air pesisir Pemuteran, makin parah dengan muncul el Nino yang mengakibatkan kenaikan suhu air laut dan memutihnya terumbu karang. Akibat tindakan kurang bersahabat, pendapatan nelayan pun jauh dari taraf memadai.
Tak hanya di Pemuteran, kondisi yang nyaris sama terjadi diwilayah lain di Indoneisa. Seperti diketahui Indonesia mempunyai 17.502 pulau yang memiliki 581 spesies karang dari 793 spesies karang di dunia. Luasan terumbu karang Indonesia mencapai 85.700 kilo meter persegi atau 14 % luasan terumbu karang dunia. Hanya 6% terumbu karang itu dalam kondisi sehat. Kerusakan terjadi akibat ulah manusia, seperti pola memancing ikan menggunakan dinamit (bom ikan) dan sianida, pencemaran, pemanasan global eksploitasi berlebihan dan pengembangan kepariwisataan yang tidak ramah lingkungan. Degradasi lingkungan ini berdampak besar terhadap kehilangan nilai ekonomi dan budaya. Secara ekonomis, diperkirakan Indonesia kehilangan nilai ekonomi lebih dari 34 milyar dolar per tahun akibat kerusakan terumbu karang.
Tak hanya potensi laut yang menjadi miskin, penduduk pesisir pun tetap pada posisi dibawah garis kemiskinan. Sehingga perlu upaya mengubah pola pikir masyarakat Pemuteran dari pencari ikan menjadi pembudidaya keragaman hayati laut, dari pencari ikan menjadi pelayan wisatawan untuk menikmati kekayaan lautnya.
Mengubah pola pikir, gaya hidup, kebiasaan masyarakat bukan pekerjaan mudah. Diperlukan sinergi antar komponen masyarakat untuk melakukan perbaikan. Untuk itu, pelaku industri bersama desa adat menetapkan rencana pengembangan desa Pemuteran. Tahap awal dilakukan upaya peningkatan kualitas kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan sesuai kaidah falsafah Tri Hita Karana. Dengan menggunakan kesenian tradisional – wayang, arja, bondres—untuk mensosialisasikan hal- hal pelestarian lingkungan termasuk didalamnya upaya pengembangan kepariwisataan, khususnya wisata bahari.
Membawa masyarakat desa study banding ke pusat- pusat pengembangan pariwisata di Bali. Menyelenggarakan pelatihan di desa dengan mengundang pembicara dari kalangan praktisi, ahli kepariwisataan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa Pemuteran.
Kepedulian terhadap lingkungan inilah yang mendorong masyarakat desa Pemuteran melakukan rehabilitasi terumbu karang. Dan ditengah kerusakan lingkungan dunia, Indonesia khusus desa Pemuteran, sekarang menjadi pemimpin utama dalam upaya restorasi terumbu karang. Melalui Yayasan Karang Lestari (YKL) masyarakat desa Pemuteran melaksanakan program restorasi terumbu karang menggunakan teknologi biorock dengan luasan wilayah restorasi terbesar di dunia (sampai saat ini luas daerah perlindungannya lebih dari dua (2) hektar).
Pelaku bisnis hotel, diveshop (toko peralatan menyelam), masyarakat nelayan , kalangan ahli dan pegiat lingkungan bersatu untuk melindungi dan memulihkan terumbu karang. Pada akhirnya memulihkan sumber daya pesisir dan memicu pertumbuhan bisnis kepariwisataan serta perekonomian masyarakat. Keberhasilan pilot project restorasi terumbu karang dengan teknologi biorock di Pemuteran ini ditentukan oleh tingkat partisipatif semua elemen masyarakat baik sebagai pelaku bisnis, masyarakat nelayan maupun pihak pemerintah. Hal ini telah dibuktikan dibeberapa daerah lain, beberapa program biorock tidak menunjukkan hasil maksimal akibat kurangnya dukungan masyarakat setempat.
Berbasis Masyarakat
Di Pemuteran dengan menggunakan prinsip pengembangan pariwisata berbasis masyarakat telah berlaku pola setiap industri – hotel, restoran, atraksi wisata, jasa wisata — beroperasi dengan kapasitas alami untuk regenerasi dan masa depan produktifitas alam, sosial dan budaya. Terjadinya pembelajaran dua arah yang memberikan pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Menerima bahwa masyarakat memiliki pembagian yang adil dan wajar dari keuntungan pariwisata. Industri yang dikembangkan untuk sebesar- besarnya kepentingan masyarakat dan komunitas di sekitar wilayah wisata khususnya.
Dengan usaha yang berkelanjutan, aktivitas pariwisata di Pemuteran telah menjadi alat informasi pengetahuan, mendukung kesatuan ekosistem, memberi keuntungan bagi penduduk, memelihara lingkungan dan menghormati budaya serta tradisi lokal.
Di Pemuteran penggunaan secara optimal sumberdaya alam dan budaya dilakukan dalam kerangka keseimbangan dan menyokong pengembangan perekonomian secara keseluruhan. Menyediakan kesan khusus bagi turis di satu sisi, dan disisi lain meningkatkan kualitas kehidupan penduduk lokal. Manfaat tersebut dapat terwujud karena sinergi aktif semua komponen pariwisata baik itu pemerintah, sektor swasta dan penduduk lokal.
Di Pemuteran pariwisata berkelanjutan adalah industri yang diusahakan menekan dampak negatif pada lingkungan dan budaya lokal, dengan membantu meningkatkan pendapatan, pekerjaan, dan konservasi ekosistem setempat. Hal ini merupakan pariwisata bertanggungjawab yang sensitif terhadap nilai-nilai ekologi dan budaya .
Industri pariwisata umumnya didasarkan atas ketersediaan sumberdaya alam seperti udara, daratan dan air. Sumber daya alam tersebut dijadikan obyek sekaligus produk bagi industri pariwisata. Ekosistem alam akan rusak jika perencanaan, pengembangan dan pengoperasiannya tidak diatur dengan pantas. Di lain pihak jika dikembangkan secara berkelanjutan, pariwisata dapat menjadi kekuatan positif bagi konservasi lingkungan.
Di Desa Pemuteran ada aturan desa yang mengatur pengembangan pembangunan di wilayahnya berdasarkan falsafah Asta Kosala- Kosali. Ratio pembangunan 40:60 – hanya 40 % luas lahan yang boleh dibangun, 60% merupakan areal hijau terbuka. Aturan penggunakan arsitektur lokal, penggunaan sumber daya manusia setempat serta potensi sosial budaya yang menjadi kekhasan desa Pemuteran.
Biorock
Sebagai daerah pesisir, desa Pemuteran sangat potensial dikembangkan sebagai daerah wisata bahari. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat dalam industri pariwisata diawali dengan melakukan restorasi terumbu karang. Namun, turis tidak hanya tertarik pada perspektif mengenai keanekaragaman dan keunikan biota, yang lebih penting bagaimana proses dan hasil dari lingkungan alam serta kaitannya dengan manusia yang mendiami dan menggunakan lingkungannya.
Pengembangan pariwisata berkelanjutan di desa Pemuteran menggunakan prinsip pariwisata berbasis masyarakat, baik itu di pesisir maupun di darat. Tanpa partisipasi aktif masyarakat nilai strategis pariwisata untuk mensejahterakan masyarakat, sekaligus mengkonservasi secara tepat guna sumber daya alam, sosial, budaya masyarakat tidak tercapai.
Khusus untuk di Pemuteran restorasi bertujuan :
• Mendukung konservasi pesisir berbasis masyarakat melalui program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat
• Menjaga konservasi tepatguna, berdayaguna dan berkelanjutan melalui partisipasi aktif dari masysrakat setempat pelaku industri, kalangan ilmuan pesisir, pencita lingkungan dan pemerintah.
• Memulihkan habitat terumbu karang menjadi habitat yang alamiah dan pada akhirnya meningkatkan sumber daya laut dibidang perikanan dan pengembangan wisata ekologi maritim berkelanjutan.
• Meningkatkan kemampuan dan pemahaman nelayan dari cara penangkapan yang merusak ke cara penangkapan ramah lingkungan, dari hanya pencari ikan menjadi pembudidaya ikan melalui budidaya terumbu karang.
• Mencegah kerusakan lingkungan melalui rehabilitasi terumbu karang dan pengelolaan sumber daya.
• Meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan baik terhadap wisatawan maupun penduduk local
• Mengembangkan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat
• Data penelitian terakhir menyebutkan bahwa dengan luasan terumbu karang yang sama dengan luasan hutan di darat, terumbu karang mampu menyerap emisi 70 persen CO2 dari udara.
Tercatat 59,5% karang Indonesia telah tumbuh dan berkembang di lebih dari 66 struktur biorock Pemuteran. Sistem biorock dipilih karena kehandalannya beradaptasi dengan kenaikan suhu air laut, daya tumbuh karang 3-5 kali lebih cepat dibanding pertumbuhan alamiah, 50- 80 % lebih tahan terhadap perubahan dan tekanan/stress.
Pariwisata di wilayah pesisir dan laut bersumber pada nilai keanekaragaman hayati, karena semakin tinggi ‘keanekaragaman’ maka semakin tinggi daya jualnya. Potensi bawah air Pemuteran dengan sistem biorocknya telah membuktikannya. Namun keberlanjutannya tak lepas dari ketergantungan usaha pariwisata terhadap lingkungan tersebut.
Data dari PADI (Profesional Association of Diving Instructor) melalui Project AWARE – Aquatic World Awarness responsibility and Education, menyebutkan bahwa pemanfaatan suatu kawasan laut dengan luasan sama untuk pariwisata memiliki potensi pendapatan 25 kali lebih besar dibanding pemanfaatan perikanan. Di beberapa kawasan dunia, setiap kilometer pemanfaatan karang bagi pariwisata mampu memberi pemasukan sebesar US$ 3 juta/tahun. Dilihat dari sisi tenaga kerja, pariwisata bahari mampu menyerap 10% dari total tenaga kerja industri pariwisata.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari makin berkembangnya industri ikutan pariwisata bahari seperti sovenir shop, penyewaan alat selam, alat wisata di darat seperti penyewaan sepeda gunung, kendaraan untuk tur ke objek wisata sekitar desa sampai berkembangnya wisata spiritual. Perlu diketahui Pemuteran memiliki sejumlah pura atau tempat spiritual yang diminati kalangan spriritual dunia.
Disamping itu, desa Pemuteran telah memiliki kelompok penjaga laut (pecalang) yang mengamankan wilayah pesisir Pemuteran. Kelompok reef garderner yang melakukan pemeliharaan terumbu karang, menyusul dalam waktu dekat peresmian unit travel, dan unit pengembangan spiritual centre. Keseluruhan unit tersebut berada dibawah Badan Pengelola Pengembangan Desa Pemuteran (Single Destination develompment and Management)
Keberhasilan pengembangan pariwisata kerakyatan di Pemuteran ini juga dapat dilihat dari sejumlah penghargaan yang terima seperti: dari Skal, ASEANTA, PATA maupun Kalpataru dari pemerintah Indonesia.
This entry was posted
on Tuesday, November 24th, 2009 at 2:15 pm and is filed under Blogs.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
November 27th, 2009 at 9:28 am
Pengembangan pengelolaan berbasis masyarakat sebaiknya difokuskan pada daerah-daerah dimana kegiatan tersebut secara turun-temurun telah terjadi di masyarakat. Banyak program2 untuk mengubah kultur sebuah masyarakat menjadi masyarakat peduli perlindungan sumberdaya terumbu karang, menurut saya hampir sebagian besar gagal. Hanya pada daerah2 dimana kultur tersebut telah ada sejak lama, program akan berhasil.
November 29th, 2009 at 2:26 am
Info yang menarik