Dashboard | About Us | Contact Us  
 
Newsflash

Jaringan MaskerBiru

October 19th, 2008

MaskerBiru.net didasari atas semangat berbagi dan kebersamaan. Berangkat dari sebuah keinginan untuk menyediakan wadah bagi semua orang untuk berbagi, bertukar informasi, bertukar pendapat, menyampaikan ide, maka terbentuklah MaskerBiru.net. Bergabunglah menjadi salah satu dari sekian banyak anak negeri yang peduli dengan terumbu karang Indonesia. Untuk melihat informasi mengenai kondisi terumbu karang Indonesia yang disumbangkan secara partisipatif dan sukarela, anda dapat melihatnya pada menu “Coral Reef Map”

  • Loading...


    Loading...

    User Login




    Remember me
    Register
    Lost password?

    Register





    A password will be mailed to you.
    Log in | Lost password?

    Retrieve password





    A confirmation mail will be sent to your e-mail address.
    Log in | Register
    • Translate to:

    Mengapa terumbu karang di barat Indonesia begitu unik?

     paul-barber-pics2.jpg

    Sumatra memiliki beberapa lokasi dengan keragaman terumbu karang yang tinggi dimana biota laut dan ikan jenis tertentu berbagi campuran spesies yang unik dari Samudra Hindia dan Pasifik. Dari 2057 ikan karang yang tercatat di Indonesia (Allen dan Adrim 2003), 60% ditemukan di Sumatra.

    Adanya keterbatasan pertukaran genetis antara Sumatra dan kawasan lain kepulauan Indonesia merupakan alasan dari keunikan komposisi fauna laut yang ada saat ini.  Turunnya permukaan laut pada jaman Pleistosin yang mencapai 120m di bawah rata-rata permukaan laut saat ini (Voris 2000) mengakibatkan Paparan Sunda terekspos menjadi sebuah daratan yang menghalangi pertukaran genetis antara kawasan barat dan timur Indonesia dalam kurun waktu yang panjang (A). Populasi biota laut di sisi barat Paparan Sunda mendapat sumber larva dari Laut Andaman dan Samudra Hindia, sementara masukan larva pada sisi timur bersumber dari arus lintas Indonesia (ARLINDO) yang berasal dari Samudra Pasifik (Hirst and Godfrey 1993, Sathiamurty and Voris 2006, Song et al. 2004).  Meningkatnya permukaan laut seiring waktu berarti memungkin terjadinya masukan sumber larva dari utara, barat dan timur Sumatra (B).  Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, perairan di antara Sumatera dan Kalimantan kembali terhubung oleh laut dan membawa kembali pengaruh dari Samudra Pasifik ke bagian barat perairan Indonesia (C).

    Dinamika penyebaran larva ikan dan karang di bagian barat Sumatra telah terputus secara ekstrim oleh sejarah perubahan tinggi muka laut pada masa Pleistosin. Ditambah dengan terbatasnya akses (connectivity) terhadap daerah terumbu karang lain di kawasan Samudra Hindia yang merupakan satu-satunya sumber penyedia larva bagi terumbu karang di Sumatra, tingkat keberhasilan hidup (survival) larva karang dan ikan menjadi sangat rendah. Hal ini mengakibatkan populasi biota laut di Sumatra menjadi ekslusif terhadap pertukaran gen dan penyebaran larva yang menghambat pertumbuhan populasi biota laut.  Dalam studi yang lebih detil mengenai populasi ikan ekor kuning (Caesio cuning), Shinta Pardede (WCS) menemukan bahwa ukuran populasi efektif ikan ekor kuning di Medan (bagian timur laut Sumatera) adalah setengah dari ukuran efektif  populasi-populasi lain di kawasan Indonesia. Fakta ini mengindikasikan rendahnya tingkat migrasi gen yang membatasi akses penyebaran larva ke daerah tersebut sehingga kemungkinan untuk perbaikan kondisi ekosistem terhadap kerusakan sangat lambat, terutama mengingat luasnya daerah timur Samudera Hindia yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi pada tahun 2004.

    Keunikan ekosistem terumbu karang di Sumatera bertambah dengan ditemukannya Chlorurus rhakoura, salah satu spesies ikan endemik Samudera Hindia, baru ditemukan untuk pertama kalinya di Aceh, bagian utara Sumatera. Demikian pula halnya dengan Pomacentrus burroughi, spesies ikan yang hanya umum ditemukan di Pasifik sampai ke Jawa, ternyata juga ditemukan di Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa terumbu karang Sumatra memiliki spesies ikan yang umum di Samudra Hindia namun tidak ditemukan di kawasan Pasifik (9%), dan juga sebaliknya (15%), mengindikasikan bahwa terumbu karang di bagian timur Bentang Laut Samudera Hindia, merupakan lokasi yang unik dan kaya dengan ragam jenis fauna laut.

    (Gambar oleh Paul Barber)

    Pustaka

    1.Gerald R. Allen and Mohammed Adrim (2003) Coral Reef Fishes of Indonesia. Zoological Studies 42(1): 1-72.
    2.Hirst AC, Godfrey JS  1993  The role of Indonesian Throughflow in a Global Ocean GCM. J. Phys. Oceanogr. 23.:1057–1086
    3.Sathiamurthy E, Voris H  2006  Maps of Holocene Sea Level Transgression and Submerged Lakes on the Sunda Shelf. The Natural History Journal of Chulalongkorn University Supplement 2:1-43
    4.Song Q, Gordon AL, Visbeck M  2004  Spreading of the Indonesian Throughflow in the Indian Ocean. J. Phys. Oceanogr. 34:772-792
    5.Voris HK  2000  Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: shorelines, river systems and time durations. Journal of Biogeography 27:1153-1167

    Leave a Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Latest Data Entry

    Green, Alison L. ; Bellwood, David R.

    IUCN, Global Marine Programme
    Series: IUCN Resilience Science Group Working Paper Series ; 7

    Gland : IUCN, 2009. v, 70 p. : ill.
    ISBN 978-2-8317-1169-0

    Download

    February 18th, 2010

    Schuttenberg, H.Z. (ed)., (2000), Coral Bleaching: Causes, Consequences and Response, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI, USA, 102 pp. (924 kb).

    January 9th, 2010

    Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia - Permen No. PER.02/MEN/2009, tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan.

    December 15th, 2009

    Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil - Nomor PER.17/MEN/2008

    November 6th, 2009

    C HITIPEUW - 2003

    Download

    October 4th, 2009

    Latest Data Entry

    join

    Bastianos.com