Pada akhir Maret 2007 Wildlife Conservation Society - Indonesia Program (WCS-IP) dan Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef Studies (ARCCoERS) melaksanakan survei untuk mengkaji terumbu karang di Pulau Simeulue dan Kepulauan Banyak. Daerah ini terkena dampak tsunami Desember 2004 dan gempa Maret 2005 yang cukup parah.

Survei meliputi 35 lokasi yang meliputi lebih kurang 600 km garis pantai dan untuk pertama kalinya mendokumentasikan dampak gempa bumi terhadap terumbu karang, ini mungkin kerusakan karang dalam skala besar yang pernah tercatat. Seluruh pesisir Pulau Simeulue sepanjang lebih kurang 300 km terangkat hingga 1,2 meter setelah gempa bumi pada tangga; 26 Maret 2005 serta mengangkat terumbu karang yang melingkupi pulau tersebut.
Selama survei, tim peneliti menemukan kematian karang dalam skala yang jarang ditemukan. Dibandingkan dengan kerusakan akibat coral bleaching tidak ada karang yang bertahan hidup, tetapi sebagian besar sebenarnya masih dalam kondisi baik. Secara menakjubkan karang-karang yang terangkat tersebut masih dapat diidentifikasi masing-masing sepsiesnya, walaupun koloni-koloni ini telah terangkat lebih kurang selama 2 tahun. Beberapa spesies mengalami kepunahan hingga 100% dan spesies yang berbeda saat ini mendominasi terumbu karang di perairan dangkal.
Meskipun begitu tidak seluruhnya hasil dari Simeulue merupakan berita buruk. Di beberapa titik spesies-spesies yang banyak mengalami kematian mulai melakukan rekolonisasi di perairan dangkal dimana sebelumnya mereka berasal. terumbu karang nampaknya mulai kembali ke kondisi sebelum gempa terjadi, walaupun tentu saja proses tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ini merupakan kesempatan yang langka dapat mendokumentasikan sebuah proses yang mungkin hanya terjadi satu kali setiap abad. Temuan ini memberikan gambaran bagaimana proses perbaikan (recovery) dan terumbu karang dibangun yang selama ini hanya dapat dipelajari dari catatan fosil. Tantangan bagi WCS dan pertner adalah bagaimana bekerjasama dengan masyarakat lokal dan pemerintah untuk melindungi karang-karang tersebut untuk memastikan proses perbaikannya terus berlanjut.
Lihat press release terakhir kami di web:
http://environment.newscientist.com/article/dn11603-indonesian-earthquake-lifted-coral-to-its-death.html
http://www.reuters.com/article/scienceNews/idUSJAK25142920070412?pageNumber=1
http://www.eurekalert.org/pub_releases/2007-04/wcs-mcd041107.php#
http://www.yubanet.com/artman/publish/article_54612.shtml
http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=749
This entry was posted
on Monday, October 20th, 2008 at 5:44 am and is filed under Reef of Indonesia, News.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
|
Latest Data Entry
Schuttenberg, H.Z. (ed)., (2000), Coral Bleaching: Causes, Consequences and Response, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI, USA, 102 pp. (924 kb).
January 9th, 2010
Patlis, J., N.A. Tangkilisan, D. Karwur, M.E. Ering, J. Tulungen, R. Titahelu, M. Knight, (2003), Study Case Developing a District Law, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 86 pp. (2571 kb).
September 6th, 2009
Coastal Resources Center, (2001), Coral Reef Field Perspectives: Crown-of-Thorns Clean-Up Fact Sheet, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 1 pp. (196 kb).
August 12th, 2009
Pollnac, R.B., (2000), Assessing Behavioral Aspects of Coastal Resource Use, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 149 pp. (946 kb).
July 17th, 2009
Knight, M., (2001), Desentralisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir di Amerika Serikat: Contoh bagi Indonesia, Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Narragansett, RI USA, 106 pp. (4167 kb).
May 5th, 2009
Latest Data Entry


|